jpnn.com, JAKARTA - Strategic Advisor CECT Sustainability Universitas Trisakti, Windrawan Inantha mengungkapkan ketertelusuran atau traceability memiliki peran penting dalam industri sawit nasional.
Windrawan menjelaskan melalui Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EUDR), pihak Uni Eropa kini menuntut agar komoditas kelapa sawit dapat dibuktikan bebas dari praktik deforestasi.
Hal ini memerlukan bukti pelacakan perjalanan produk yang mendalam, mulai dari lokasi kebun asal hingga berakhir di supermarket.
Tekanan dari Uni Eropa ini menjadi tantangan besar lantaran pasar domestik hampir tidak pernah meminta informasi kebun asal CPO dalam produk turunannya.
Oleh karena itu, perlu penerapan traceability untuk mempertahankan akses ke pasar global, sekaligus memperkuat legitimasi tata kelola perkebunan yang berkelanjutan.
"Traceability sawit hari ini lebih banyak lahir dari tekanan akses pasar dan tata kelola global daripada dari dorongan konsumen domestik," kata Windrawan dalam keterangan pers, Selasa (21/4).
Hambatan utama dalam penerapan traceability di industri sawit nasional yakni fakta bahwa 42 persen areal sawit Indonesia dikelola oleh petani kecil.
Dalam konteks ketertelusuran ini, Windrawan menekankan para petani kecil menjadi titik paling rapuh dalam rantai pasok industri.

4 hours ago
2




















































