jpnn.com, JAKARTA - Grup musik, Strange Fruit melepas mini album atau EP terbaru yang bertitel Drips.
Strange Fruit mengeklaim, Drips bukanlah suatu tonggak kebangkitan, melainkan momen berlabuh dalam menemukan ramuan ideal menyatukan setiap keping eksperimentasi kosmische selama 11 tahun terakhir.
Sejak peluncuran EP Dolphin Leap (Leeds, 2015); dari kenaifan noise pop, impuls motorik krautrock, gravitasi ethereal shoegaze, baggy acid house sampai electronic leftfield, masing-masing berpadu melahirkan 4 komposisi heterogen penuh bebunyian aneh, sekumpulan frekuensi yang menerabas sekat-sekat suara, yang tidak bisa ditemui lewat musik berbasis gitar.
Pembauran elemen electronic, yang menjadi terobosan artistik bagi Strange Fruit dioptimalisasi melalui kombinasi dua senyawa antara instrumen mesin dan analog, khususnya pada departemen drum.
Penyintesis Irza Aryadiaz menyuplai semua kebutuhan ritme dengan menggunakan perangkat robotik semacam drum machine TR-08, juga synthesizer semi modular Grandmother Moog. Hasilnya menawan sebagaimana single pertama Iridescent menuntun gairah dansa terbuai lantunan beat minimalis.
Ketika lapisan synthesizer menghembus napas ambient, di saat itulah vokalis Baldi Calvianca mengalami inkarnasi sakral, bernyanyi seolah dirinya tenggelam dalam semesta kosmos yang manis sekaligus getir.
Pada album tersebut, pengaruh terbesar selain faktor musikal, diakui Irza Aryadiaz adalah makanan Prancis dan bir Jerman. Kedua hal tersebut kemudian diwujudkan sempurna lewat Pouvoir Moteur, sebuah tembang berketukan motorik yang melaju konstan.
Dikerjakan di atas stabilitas beat synth pads & keys, sensor motorik memang menjadi unsur utama setiap lagu Strange Fruit di mana sensasi repetitif bergulir tanpa celah jeda, seakan melayang di jalan bebas hambatan.

2 weeks ago
14




















































