jpnn.com, JAKARTA - Pelatih Persija Jakarta Mauricio Souza angkat suara terkait aksi kekerasan tendangan kungfu yang terjadi dalam laga EPA U-20 antara Dewa United U-20 melawan Bhayangkara FC U-20.
Ia menegaskan kejadian tersebut menjadi alarm keras bagi semua tim, termasuk Persija, untuk lebih serius dalam mengontrol emosi pemain.
Souza mengaku telah langsung membahas isu ini bersama skuadnya. Menurutnya, kontrol emosi menjadi kunci utama agar tim tidak merugikan diri sendiri di tengah ketatnya kompetisi.
“Saya sudah bicara dengan grup tentang situasi seperti itu. Kita harus bisa mengontrol emosi di lapangan, karena kalau tidak, kita sendiri yang rugi dalam kompetisi ini,” ujar Souza.
Ia tidak menampik Persija juga sempat terdampak persoalan serupa. Banyaknya kartu merah yang diterima timnya disebut menjadi salah satu faktor yang menghambat posisi mereka di klasemen.
“Kami sudah kehilangan beberapa poin karena kartu merah. Kalau itu tidak terjadi, mungkin posisi kami bisa lebih baik sekarang,” tegas pelatih asal Brasil tersebut.
Souza menilai, salah satu pemicu utama emosi pemain adalah respons berlebihan terhadap keputusan wasit. Untuk itu, ia terus mengingatkan anak asuhnya untuk tetap fokus pada permainan, bukan terpancing situasi di lapangan.
“Pemain sering terlalu emosional, banyak komplain soal wasit. Saya bilang, wasit juga bekerja seperti kita. Kalau sudah ada keputusan, kita harus lanjutkan permainan dan fokus pada tugas kita,” jelasnya.

2 hours ago
2





















































