jpnn.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi menguat 6 poin atau 0,03 persen menjadi Rp 17.280 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.286 per USD.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai kurs rupiah masih menerima sentimen risk-off akibat ketidakpastian potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dengan Iran di Timur Tengah.
“Sentimen ini dipicu oleh laporan bahwa Gedung Putih masih menunggu respons Iran sebelum memulai negosiasi perdamaian. Investor menafsirkan pernyataan tersebut sebagai sinyal masih tingginya ketidakpastian terkait proses perdamaian,” kata Josua di Jakarta, Jumat.
Mengutip Sputnik, pada 7 April 2026, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu yang kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan di Islamabad, Pakistan, meski berakhir tanpa kesimpulan.
Seusai gagal mencapai kesepakatan, AS menyatakan akan mulai memblokade kapal-kapal yang akan masuk dan keluar pelabuhan Iran.
Setelah gencatan senjata selama dua pekan berakhir, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran sambil melanjutkan blokade, menambahkan bahwa pembicaraan damai dengan Iran "mungkin" terjadi dalam 36 hingga 72 jam ke depan.
Adapun Iran sebenarnya siap melanjutkan negosiasi untuk mencapai perdamaian, tetapi meragukan ketulusan dari AS, sebagaimana disampaikan Duta Besar Iran untuk Rusia Kazem Jalali yang diwartakan Xinhua.
Jika ingin melakukan perundingan, AS diminta oleh Iran agar praktek negosiasi tak didasarkan pendiktean syarat, melakukan penipuan, atau sengaja memperpanjang proses negosiasi.

3 hours ago
4





















































